Rabu, 25 Januari 2012

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia

Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina yang awalnya bagai mimpi, kini mendekati realisasi. Ketua Presidium MER-C, Jose Rizal Jurnalis mengatakan, pekerjaan pertama hampir mencapai 80 persen.

"Tak terasa hampir selesai pekerjaan tahap pertama pembangunan RSI Gaza. Minggu terakhir Januari 2012 ini insya Allah mencapai 80 persen," kata dia dalam pesan tertulis yang diterima VIVAnews.com, Kamis 26 Januari 2012.

Dia menambahkan, jika tidak ada kendala berarti pekerjaan struktur akan selesai dalam 2 bulan mendatang, Maret. Jose Rizal mengakui, pembangunan RSI tahap pertama di luar rencana. Sebab, dalam perencanaan, seharusnya RSI Gaza selesai pada bulan Februari.

"Namun berbagai kendala yang ada di lapangan membuatnya sedikit mundur dari rencana," kata dia. Kendala-kendala tersebut antara lain terlambatnya pengadaan material, kondisi cuaca dalam dua bulan terakhir selalu turun hujan, dan beberapa item pekerjaan tambahan hingga terlambat sekitar 1 bulan. "Hal ini terhitung sangat normal, karena membangun di daerah konflik memang tidak mudah."

Tak hanya kali ini saja. Sejak awal RS ini akan dibangun, memang banyak kendala yang dihadapi."Mulai dari susahnya para relawan masuk ke Gaza untuk mengawal pembangunan, susahnya mendapatkan material, karena material harus diadakan melalui terowongan," kata dia.

"Ditambah lagi kondisi keamanan di Gaza sendiri yang tidak pernah lepas dari serangan-serangan Israel, yang mengakibatkan beberapa kali proses pembangunan harus dihentikan, serta berbagai kendala yang harus dihadapi."

Namun, dia menambahkan, para relawan tak menyerah. "Sungguh tidak terbayang sebelumnya pekerjaan yang semula hanya mimpi ini telah mencapai progress yang begitu jauh," kata Jose Rizal.

Dia menceritakan, dari kejauhan, RSI Gaza berbentuk segi delapan seperti Qubbah Sakhra di Masjid Al-Aqsha. "Bangunan ini sudah nampak berdiri tegak."

Untuk diketahui, rumah sakit bantuan rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mulai didirikan di atas sebidang tanah wakaf yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara.

Batu pertama dilakukan oleh Ketua DPR RI pada 29 Juni 2010. Dana yang tersedia untuk pembangunan rumah sakit berukuran 60x60 meter itu berjjumlah Rp13 miliar. Semua murni dari rakyat Indonesia, tak ada bantuan asing.

Sabun Magnetik Pertama Di Dunia

Ilmuwan berhasil menciptakan sabun magnetik pertama di dunia. Ini berarti bahwa sabun dan material yang terlarut olehnya bisa dihilangkan secara mudah dengan menggunakan medan magnet. Ke depan, jenis sabun ini bisa diaplikasikan pada tumpahan minyak dan air limbah.

Detail inovasi ilmuwan ini dipublikasikan di jurnal ilmu kimia Angewandte Chemie. Salah satu ilmuwan yang terlibat dalam riset inovatif tersebut adalah Julian Eastoe dari Universitas Bristol, Inggris. "Jika Anda mengatakan pada pakar kimia 10 tahun lalu, 'Ayo kita buat sabun yang merespons gaya magnet,' mereka akan melihat Anda dengan tatapan kosong," kata Eastoe seperti dikutip BBC News, Senin (23/1/2012).

Sabun magnetik pada dasarnya sama dengan sabun biasa. Sabun ini terdiri dari bagian yang "suka" minyak dan bagian yang "suka" air sehingga dapat mengangkat minyak dan kotoran. Bedanya, para ilmuwan menambahkan atom besi pada molekul sabun magnetik.

Ilmuwan mempelajari perilaku besi tambahan itu. Mereka mengirimkan ke Institute Laue Langevin (ILL) di Grenoble, Perancis. Ilmuwan menemukan bahwa kumpulan atom besi yang gumpalan ukuran nano dapat merespons kekuatan medan magnet.

Eastoe mengatakan bahwa inovasi ini masih dalam skala laboratorium dan akan terus diperbaiki. Inovasi ini menunjukkan rancangan kimia dapat menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Senin, 09 Januari 2012

Pengayaan Uranium

Iran menegaskan, pihaknya telah mulai pengayaan uranium di bunker bawah tanah di fasilitas nuklir Fordo, kata para diplomat Iran, Senin (9/1/2012), di markas Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Proyek nuklir akan diawasi oleh IAEA, kata saluran TV Al-Alam yang mengutip Ali Asghar Soltanieh, perwakilan Iran di badan pengawas nuklir PBB itu. Pabrik nuklir tersebut dibangun di dekat kota suci Syiah Qom, yang digunakan untuk memproduksi uranium yang diperkaya hingga 20 persen.

Fasilitas itu dirahasiakan dan tidak diakui oleh Iran sampai identifikasi oleh badan-badan intelijen Barat pada tahun 2009. Dengan dimulainya pekerjaan nuklir di Fordo, ketakutan ketakutan internasional pun meningkat. Pasalnya, Barat menduga pengayaan uranium Iran mungkin dimaksudkan untuk melangkah lebih dekat ke kemampuan untuk membuat senjata nuklir. Namun Iran menegaskan, program nuklirnya hanya untuk tujuan tujuan damai.